Pembukuan & Akuntansi Dasar
Cara Menghitung HPP untuk UMKM (Makanan, Sembako, Jasa)
HPP dagang = Persediaan Awal + Pembelian dikurangi Persediaan Akhir; HPP produksi = Bahan Baku + Tenaga Kerja + Overhead. Dipakai untuk menentukan harga jual yang sehat.
Banyak UMKM menetapkan harga jual hanya berdasarkan “perkiraan” - dan diam-diam merugi. Kunci untuk menghindarinya adalah memahami HPP (Harga Pokok Penjualan). Artikel ini menjelaskan cara menghitungnya. HPP juga komponen penting dalam laporan laba rugi dan bagian dari panduan lengkap laporan keuangan UMKM.
Apa itu HPP
HPP adalah total biaya langsung untuk menghasilkan atau menyediakan barang yang terjual. Mengetahui HPP membantu Anda menentukan harga jual yang sehat dan menghitung laba kotor dengan benar.
Rumus HPP untuk usaha dagang (toko, sembako)
HPP = Persediaan Awal + Pembelian − Persediaan Akhir
Contoh toko sembako dalam sebulan:
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Persediaan awal | 10.000.000 |
| Pembelian | 25.000.000 |
| Persediaan akhir | (8.000.000) |
| HPP | 27.000.000 |
Perhatikan persediaan akhir ditulis dalam kurung karena ia mengurangi. Logikanya sederhana: dari semua barang yang tersedia untuk dijual (persediaan awal + pembelian = Rp35.000.000), yang masih tersisa di rak (Rp8.000.000) belum terjual, jadi bukan bagian dari HPP. Yang terjual senilai Rp27.000.000.
Rumus HPP untuk usaha makanan (F&B)
Untuk usaha produksi seperti kuliner, HPP per produk umumnya:
HPP = Biaya Bahan Baku + Tenaga Kerja Langsung + Overhead Produksi
Atau versi sederhana per porsi: total biaya produksi ÷ jumlah porsi. Misalnya total biaya membuat 100 porsi = Rp1.500.000, maka HPP per porsi = Rp15.000. Jika dijual Rp25.000, laba kotor per porsi Rp10.000.
Mari rinci angka Rp1.500.000 itu supaya jelas dari mana asalnya, untuk 100 porsi nasi ayam:
| Komponen | Jumlah (Rp) | Termasuk |
|---|---|---|
| Bahan baku | 1.000.000 | Beras, ayam, bumbu, sayur |
| Tenaga kerja langsung | 300.000 | Upah tukang masak per batch |
| Overhead produksi | 200.000 | Gas, kemasan, sebagian listrik dapur |
| Total biaya produksi | 1.500.000 | |
| HPP per porsi (÷ 100) | 15.000 |
Yang sering keliru: pemilik warung hanya menghitung bahan baku (Rp1.000.000), lalu mengira HPP per porsi cuma Rp10.000. Mereka lupa upah masak dan gas. Akibatnya harga jual terlalu murah dan diam-diam rugi. Sertakan tenaga kerja langsung dan overhead, jangan hanya bahan.
Rumus HPP untuk toko sembako vs warung makan vs jasa
HPP terlihat berbeda tergantung jenis usaha. Ini ringkasannya:
| Jenis usaha | Cara hitung HPP | Catatan |
|---|---|---|
| Toko/sembako (dagang) | Persediaan Awal + Pembelian − Persediaan Akhir | Barang dijual apa adanya, tanpa diolah |
| Warung makan/F&B (produksi) | Bahan Baku + Tenaga Kerja Langsung + Overhead | Bahan diolah dulu menjadi produk |
| Jasa | Biaya jasa langsung | Tidak ada HPP barang, tapi ada biaya langsung |
Kuncinya: kalau Anda menjual ulang barang tanpa mengolahnya, pakai rumus dagang. Kalau Anda mengolah bahan menjadi produk, pakai rumus produksi.
HPP untuk usaha jasa
Usaha jasa murni (tanpa barang) biasanya tidak punya HPP barang, tetapi punya biaya jasa langsung. Misalnya bengkel motor: HPP-nya mencakup upah montir yang mengerjakan dan suku cadang yang dipakai, tapi tidak termasuk biaya sewa kios atau gaji kasir.
Contoh satu pekerjaan servis:
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Suku cadang (oli, kampas rem) | 180.000 |
| Upah montir untuk pekerjaan ini | 70.000 |
| HPP jasa | 250.000 |
Jika servis dijual Rp400.000, laba kotornya Rp150.000. Konsepnya sama dengan barang: hitung biaya langsung yang benar-benar dikeluarkan untuk menghasilkan jasa itu.
Dari HPP ke harga jual: menentukan markup
HPP baru setengah cerita. Setelah tahu HPP, Anda perlu menambahkan markup agar usaha juga bisa menutup biaya operasi (sewa, gaji kasir, listrik depan) dan menyisakan keuntungan. Cara umum adalah menetapkan target margin.
Misalkan HPP per porsi nasi ayam Rp15.000 dan Anda ingin margin kotor 40%. Harga jual = HPP ÷ (1 − 0,40) = Rp15.000 ÷ 0,60 = Rp25.000. Mari cek:
| Komponen | Per porsi (Rp) |
|---|---|
| Harga jual | 25.000 |
| HPP | (15.000) |
| Laba kotor | 10.000 |
Laba kotor Rp10.000 dibagi harga jual Rp25.000 = 40%, sesuai target. Dari laba kotor inilah Anda menutup beban operasi. Kalau beban operasi per porsi (dialokasikan) sekitar Rp4.000, laba bersih per porsi tinggal Rp6.000. Banyak UMKM lupa langkah terakhir ini dan mengira laba kotor sudah laba bersih.
Edge case: barang rusak, susut, dan retur
Di dunia nyata, tidak semua persediaan rapi. Beberapa situasi yang memengaruhi HPP:
- Barang rusak atau kedaluwarsa. Beras berkutu atau sayur busuk yang dibuang tetap mengurangi persediaan akhir, sehingga ikut menaikkan HPP. Itu memang kerugian nyata, jadi sudah benar tercermin di HPP.
- Susut timbangan. Beras yang dijual eceran sering susut sedikit. Hitung persediaan akhir berdasarkan stok fisik yang benar-benar ada, bukan angka di catatan.
- Retur pembelian. Kalau ada barang yang dikembalikan ke pemasok, kurangi dari Pembelian. Pembelian bersih = pembelian kotor − retur.
Kenapa HPP penting
- Menentukan harga jual yang menutup biaya dan memberi margin.
- Menghitung laba kotor (Penjualan − HPP).
- Mengontrol biaya bahan dan produksi.
HPP juga komponen utama dalam laporan laba rugi: Penjualan dikurangi HPP menghasilkan laba kotor, lalu dikurangi beban operasi menghasilkan laba bersih.
Menghitung HPP manual tiap kali ada perubahan harga bahan itu merepotkan. Ramelo menghitung HPP otomatis setiap penjualan (metode FIFO atau rata-rata), lalu memasukkannya ke laporan laba rugi. Dasar pencatatannya ada di cara membuat pembukuan usaha kecil. Lihat caranya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa beda HPP dengan harga jual?
HPP adalah biaya untuk menghasilkan atau menyediakan barang; harga jual adalah angka yang Anda tetapkan untuk pelanggan. Selisih keduanya adalah laba kotor. Kalau Anda jual Rp25.000 dan HPP-nya Rp15.000, laba kotor Rp10.000. Harga jual selalu harus di atas HPP, ditambah cukup untuk menutup biaya operasi seperti sewa dan gaji.
Apakah biaya gaji dan sewa masuk HPP?
Tergantung perannya. Gaji tukang masak dan sewa dapur produksi masuk HPP karena langsung terkait produksi. Tapi gaji kasir, sewa etalase depan, dan biaya pemasaran adalah beban operasi, bukan HPP. Garis pemisahnya: apakah biaya itu langsung dipakai untuk membuat produk yang terjual?
Bagaimana cara menghitung persediaan akhir?
Lakukan stok opname, yaitu menghitung fisik barang yang masih ada di akhir periode, lalu kalikan dengan harga belinya. Untuk usaha dengan banyak jenis barang, lebih praktis memakai aplikasi yang melacak stok otomatis setiap kali ada penjualan.
FIFO atau rata-rata, mana yang harus saya pakai?
Keduanya diperbolehkan SAK EMKM. FIFO (first in, first out) cocok untuk barang yang punya tanggal kedaluwarsa seperti makanan, karena mendorong barang lama keluar dulu. Rata-rata tertimbang lebih sederhana saat harga beli sering berubah-ubah. Yang penting: pilih satu metode, pakai konsisten, dan tulis di Catatan atas Laporan Keuangan.