SAK EMKM & Laporan Keuangan

Contoh Laporan Laba Rugi Usaha + Cara Membuatnya

Ringkas

Laporan laba rugi = Penjualan dikurangi HPP dikurangi Beban Usaha sama dengan Laba Bersih. Berisi contoh lengkap dan cara membuatnya untuk usaha dagang.

Laporan laba rugi menjawab pertanyaan paling penting bagi pemilik usaha: apakah usaha saya untung atau rugi? Artikel ini menunjukkan contohnya dan cara membuatnya. Laporan ini adalah salah satu dari tiga komponen laporan keuangan UMKM sesuai SAK EMKM.

Apa itu laporan laba rugi

Laporan laba rugi (income statement) menunjukkan pendapatan dan beban selama satu periode tertentu (sebulan, sekuartal, atau setahun), lalu selisihnya adalah laba atau rugi bersih.

Bedakan dengan saldo kas di rekening. Banyak pemilik usaha mengira “uang di tabungan banyak” berarti usaha untung. Belum tentu. Bisa jadi uang itu berasal dari utang bank, atau ada penjualan kredit yang belum tertagih. Laporan laba rugi memisahkan dua hal itu: ia hanya menghitung pendapatan dari usaha dikurangi biayanya, bukan sekadar uang masuk.

Laporan ini juga salah satu dari tiga komponen wajib SAK EMKM. Standar ini diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan menyusun laba rugi dengan dasar akrual - artinya penjualan dicatat saat terjadi, bukan saat uangnya diterima.

Komponen laporan laba rugi

  • Pendapatan/Penjualan - total nilai penjualan barang atau jasa selama periode.
  • Beban Pokok Penjualan (HPP) - biaya langsung barang yang terjual (modal barang). Untuk usaha jasa, pos ini sering kecil atau tidak ada.
  • Laba Kotor - penjualan dikurangi HPP. Ini mengukur seberapa untung produk Anda sebelum biaya operasional.
  • Beban Usaha - gaji, sewa, listrik, transportasi, dan biaya operasional lain untuk menjalankan usaha.
  • Laba Bersih - laba kotor dikurangi beban usaha. Inilah untung yang sebenarnya.

Catatan: pada laporan laba rugi UMKM, beban pajak penghasilan biasanya disajikan terpisah jika ada. Bagi pemakai skema PPh Final 0,5%, pajak dihitung dari omzet (bukan dari laba), sehingga sering dicatat sebagai pos tersendiri di luar perhitungan laba operasional.

Contoh laporan laba rugi (usaha dagang)

KeteranganJumlah (Rp)
Penjualan60.000.000
Beban Pokok Penjualan (HPP)(38.000.000)
Laba Kotor22.000.000
Beban gaji(6.000.000)
Beban sewa(3.000.000)
Beban listrik & lain-lain(2.500.000)
Total Beban Usaha(11.500.000)
Laba Bersih10.500.000

Dari contoh ini, usaha menghasilkan laba bersih Rp10,5 juta dalam periode tersebut. Perhatikan urutan pengurangannya: dari Rp60 juta penjualan, dikurangi Rp38 juta modal barang, tersisa Rp22 juta laba kotor; lalu dikurangi Rp11,5 juta beban usaha, tersisa Rp10,5 juta laba bersih.

Contoh laporan laba rugi (usaha jasa)

Usaha jasa (salon, jasa desain, konsultan, bengkel servis) biasanya tidak punya HPP barang. Strukturnya jadi lebih ringkas: pendapatan langsung dikurangi beban usaha.

KeteranganJumlah (Rp)
Pendapatan jasa25.000.000
Beban gaji(8.000.000)
Beban sewa tempat(3.500.000)
Beban perlengkapan(1.800.000)
Beban listrik & internet(1.200.000)
Total Beban Usaha(14.500.000)
Laba Bersih10.500.000

Tanpa pos HPP, laba kotor sama dengan pendapatan. Sisanya tinggal mengurangi beban usaha.

Cara membaca margin

Angka laba saja belum bercerita banyak. Dua rasio sederhana ini membuatnya lebih bermakna:

  • Margin laba kotor = Laba Kotor ÷ Penjualan. Pada contoh dagang: 22 ÷ 60 = sekitar 37%. Artinya, dari tiap Rp100 penjualan, Rp37 tersisa setelah modal barang.
  • Margin laba bersih = Laba Bersih ÷ Penjualan. Pada contoh dagang: 10,5 ÷ 60 = sekitar 17,5%.

Kalau margin kotor tipis, masalahnya ada di harga jual atau harga beli. Kalau margin kotor sehat tapi laba bersih tipis, biaya operasional Anda yang terlalu besar.

Single step vs multiple step

Ada dua format umum: single step (semua pendapatan dikurangi semua beban sekaligus) dan multiple step (bertahap: laba kotor dulu, baru dikurangi beban usaha). Untuk UMKM, format multiple step seperti contoh di atas justru lebih informatif karena memperlihatkan laba kotor secara terpisah, dan tetap mudah dibaca.

Cara membuat laporan laba rugi

  1. Jumlahkan seluruh penjualan dalam periode tersebut. Pakai dasar akrual: masukkan juga penjualan kredit yang sudah terjadi meski belum dibayar.
  2. Hitung HPP - modal barang yang terjual. (Belum paham HPP? Pelajari cara menghitung HPP untuk UMKM.)
  3. Kurangi penjualan dengan HPP untuk mendapat laba kotor.
  4. Kurangi laba kotor dengan beban usaha untuk mendapat laba bersih.

Bahan baku semua angka ini berasal dari pembukuan yang rapi. Kalau pencatatannya masih berantakan, mulai dari cara membuat pembukuan usaha kecil dan pahami jurnal debit-kredit lebih dulu.

Kesalahan umum saat menyusun laba rugi

  • Memasukkan pembelian aset sebagai beban. Membeli mesin atau kendaraan bukan beban periode itu; nilainya disusutkan bertahap. Yang masuk laba rugi hanya beban penyusutannya.
  • Lupa mencatat penjualan kredit. Dengan dasar akrual, penjualan dicatat saat barang diserahkan, bukan saat dibayar.
  • Mencampur pengeluaran pribadi. Belanja pribadi pemilik bukan beban usaha. Ini sebabnya pemisahan uang usaha dan pribadi penting.
  • Salah menghitung HPP. HPP adalah modal barang yang terjual, bukan total pembelian. Stok yang belum terjual masuk ke persediaan di neraca, bukan ke HPP.

Setelah laba rugi selesai, lengkapi dengan laporan posisi keuangan (neraca) dan CALK agar laporan SAK EMKM Anda lengkap.

Daripada menghitung manual tiap bulan, Ramelo menyusun laporan laba rugi otomatis dari transaksi yang Anda catat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya laba kotor dan laba bersih?

Laba kotor = penjualan dikurangi modal barang (HPP) saja. Laba bersih = laba kotor dikurangi semua beban usaha (gaji, sewa, listrik, dll.). Laba bersih adalah untung yang benar-benar bisa Anda nikmati.

Kenapa laba di laporan tidak sama dengan uang di rekening?

Karena dengan dasar akrual, penjualan kredit sudah dihitung sebagai laba meski uangnya belum masuk. Sebaliknya, uang dari pinjaman menambah saldo rekening tapi bukan laba. Laba dan kas adalah dua hal berbeda.

Apakah gaji pemilik masuk beban usaha?

Kalau pemilik benar-benar digaji rutin sebagai operasional, ya. Tapi pengambilan untung pribadi (prive) bukan beban; itu mengurangi ekuitas di neraca. Pisahkan keduanya agar laba tidak terlihat lebih kecil dari seharusnya.

Seberapa sering laporan laba rugi sebaiknya dibuat?

Idealnya tiap bulan, agar Anda cepat tahu kalau ada masalah. Untuk pajak, yang dipakai biasanya laba rugi tahunan. Membuatnya bulanan juga mempermudah penyusunan laporan tahunan nanti.

Usaha saya jasa, apakah tetap perlu HPP?

Tidak selalu. Banyak usaha jasa tidak punya modal barang, jadi pos HPP kosong dan laba kotor sama dengan pendapatan. Lihat contoh usaha jasa di atas.